Selasa, 04 Oktober 2011

KH. ACMAD MURSYIDI


K.H. ACMAD MURSYIDI

Klender, tepatnya Kampung Bulak, 10 November 1915, Hajjah Fatimah melahirkan anak sulung lelaki. Oleh suaminya, Ustadz Haji Maisin, ia diberi nama “Achmad Mursyidi”.

Umur sebelas tahun (1926), ia masuk Sekolah Rakyat di Pulo Gadung, yang berjarak sekitar empat kilo meter dari rumahnya. Sorenya ia belajar mengaji kepada Ustadz Abdul Kadir di Pondok Bambu.

Cita-cita Haji Maisin agar anak sulungnya itu menjadi ulama membuat ia menolak gagasan Idris, salah seorang guru di SR Pulo Gadung, yang ingin memasukan Mursyidi ke Noormal School (Sekolah Pendidikan Guru) karena anak itu pandai. Sekolah di Noormal School hanya empat tahun, kemudian bisa diangkat menjadi guru, prestasi yang prestisius.

“Mursyidi lebih baik menjadi Ulama,” kata Haji Maisin kepada Pak Idris, santun.

Lulus SR, 1930, Mursyidi belajar mengaji kepada Guru Marzuki bin Mirshad Muara hingga sang guru wafat pada 1933. Ia kemudian masuk Pesantren Plered Purwakarta, belajar kepada Ajengan Toha, memperdalam ilmu tauhid, fiqih, tafsir, hadist, nahwu, sharaf, balaghah, dan manthiq selama dua tahun. Setelah itu ia berguru kepada K.H. Achmad Thahir bin Jam’an alias Guru Amat di Cipinang Muara dan H. Gayar di Klender, yang kelak menjadi mertuanya. Selain itu dia juga belajar silat kepada Bang Majar di Kampung Sumur dan H. Darip di Klender.

Setelah membuka Madrasah Al-Falah pada tahun 1968, walau sudah menjadi kyai, dia (tetap) mengaji kepada beberapa ulama dan habaib, seperti Habaib Abdullah bin Salim bin Jindan di Kebon Nanas dan Habaib Ali bin Husein Al-Attas, Bungur, yang dikenal sebagai Habaib Ali Bungur.

Suatu hari Habaib Ali Bungur menyambut seorang tamu sambil berdiri. “Itu pertanda, tamunya itu orang yang sangat di hormati,” pikir Mursyidi. Ternyata benar, tamu itu adalah Habaib Soleh Tanggul dari Jember, yang sangat kharismatik. Buru-buru Mursyidi mencium tangan sang tamu dan mohon doa restu : “La tansani ‘anid du’a (mohon doakan saya),” katanya.

Habaib Tanggul kemudian menyuruh Mursyidi membuka mulut, dan meludahinya. “Telan ludahku,” katanya sambil meniup kepala Mursyidi. “Anta madzkurun wa masyurun (Kamu akan selalu diingat dan dikenal),” tambahnya.

Doa Habaib Tanggul menjadi kenyataan, pada tahun 1936 ia dikenal sebagai kyai muda.

Setelah menikah, kegiatannya justru makin padat. Selain mengajar, ia juga belajar berdakwah, hingga dikenal tidak sebatas di Klender tapi juga sampai ke Pulo Gadung, Cakung, Bekasi dan Penggilingan. Ia juga membina beberapa majelis ta’lim. Dan itulah yang membuat Belanda resah. Mereka curiga Mursyidi memanfaatkan pengajian untuk menghasut massa melawan Belanda.

Tanggal 27 Desember 1949, Mursyidi mencanangkan pembangunan Madrasah Ibtidaiyah Al-Falah Klender yang terus berkembang hingga saat ini. Ketika ia sibuk sebagai anggota DPR/MPR dari Partai NU pada tahun 1960-an, Al-Falah diserahkan kepada putra sulungnya Fakrudin, yang alumnus Ponpes Krapyak, Yogyakarta, dan Universitas NU Malang.

Sebagai mubaligh, nama Mursyidi, yang telah berangkat haji di tahun 1948, cukup terkenal diantara tiga ulama Klender. Dua yang lain adalah K.H. Hasbiyallah dan K.H. Achmad Zayadi Muhajir. Ketiganya sama-sama hasil didikan Guru Marzuki. Selain mempunyai majelis ta’lim di Tanah Abang, dia juga diminta mengisi Mejelis Ta’lim Daaruf Ma’arif, pimpinan K.H. Idham Chalid, di Cipete.

Kemudian dia semakin terkenal, karena pengajiannya di At-Tahiriyah, Tebet, selalu dipancarkan lewat radio perguruan tersebut. Namun, yang dominan adalah faktor kedekatannya dengan Idham Chalid, terutama di lingkungan partai.

Karier politiknya dimulai pada 1953, ketika terlibat lahirnya parpol NU, yang kemudian mengantarnya menjadi anggota DPR mewakili NU pada tahun 1959 (sampai 1968).

Selain menangani pengajian, yang tak pernah ditinggalkan, dia juga menjadi anggota Pleno Asisten Rohani Pusat Ad pada tahun 1961 dan hakim anggota pada Peradilan Agama DKI.

Mursyidi juga aktif dalam pembentukan PPP di Jakarta ketika parpol-parpol Islam berfusi pada zaman Orde Baru. Setelah melalui beberapa kali rapat, dia terpilih menjadi ketua Majelis Pertimbangan PPP di wilayah Jakarta.

Menjelang akhir politiknya, sebagai anggota tertua, Mursyidi sempat memimpin “Sidang Sementara” DPR/MPR RI hasil Pemilu 1987 (sebelum pemimpin lembaga legislatif itu ditentukan secara definitif). Ia juga diminta menjadi anggota Majelis Pertimbangan Partai, yang kemudian diembannya sampai “pensiun” pada tahun 1997.

Lepas dari kegiatan politik, dia tidak bisa tinggal diam. Di dalam Musyawarah Daerah MUI Jakarta Tahun 1999 yang digelar di Ciawi, Bogor, dia erpilih secara aklamasi sebagai ketua umum.

Dalam masa kepemimpinannya itu, MUI berhasil mewujudkan Islamic Centre di Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Tempat itu awalnya adalah daerah pelacuran yang telah berumur panjang sehingga menjadi noda hitam bagi masyarakat muslim Jakarta. Noda hitam itulah yang dia singkirkan sehingga tempat itu menjadi pusat kegiatan umat Islam secara fisik.

Selasa 8 April 2003, sekitar jam 24.00 WIB, K.H. Achmad Mursyidi wafat, setelah dirawat di RS Islam Jakarta. Tak kurang , Wakil Presiden, Menteri Agama, dab Gubernur Jakarta berta’ziyah ke rumanya. Ribuan jamaah mengiringi upacara pemakamannya di TPU Klender.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar